Ketika anda memperoleh pendapatan, apakah
yang biasanya anda lakukan ? Membelanjakan
pendapatan tersebut dan menabung sisanya,
ataukah menyisihkan untuk tabungan terlebih
dahulu dan membelanjakan sisanya ? Ataukah
apa dulu
All Friend yang budiman, ketika anda
memperoleh pendapatan, yang pertama harus
anda lakukan adalah mengeluarkan hak orang
lain yang ikut terkandung di dalam pendapatan
anda. Apakah itu disebut pajak, perpuluhan,
zakat, ataupun sodaqoh.
Nah, setelah anda keluarkan seluruh bagian
yang menjadi hak orang lain, maka kini
pendapatan anda telah bersih dan murni
menjadi hak anda. Inilah yang boleh anda
manfaatkan untuk keperluan anda sendiri
maupun keperluan keluarga anda.
Namun
jangan lupa, cara memanfaatkannya harus
mengikuti kaidah-kaidah pengelolaan uang
yang baik.
Mungkin ada yang bertanya, "Bagaimanakah
cara mengelola uang baik itu ?" Cara mengelola
uang yang baik itu harus memenuhi tiga
kategori berikut: Saving, Income Protection, dan
Investment.
Kita sebut "Tiga Pilar Pengelolaan Uang".
I. Saving
Saving atau menabung dimaksudkan untuk
membiasakan diri supaya ketika anda
memperoleh pendapatan tidak anda habiskan
untuk belanja bulanan. Pendapatan anda,
setelah dikurangi dengan pajak, zakat,
perpuluhan, sodaqoh, atau apapun namanya,
harus ada yang anda sisihkan ke dalam
tabungan terlebih dahulu sebelum anda
berbelanja.
Uang yang anda sisihkan secara rutin itu lama-
lama akan terkumpul menjadi jumlah yang
besar. Uang tersebut dapat berfungsi sebagai
dana cadangan untuk keadaan-keadaan
tertentu yang memerlukan pengeluaran lebih
besar dari biasanya; contohnya adalah saat
anak masuk sekolah, pernikahan anak, renovasi
rumah, dan sebagainya
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin anda
sering melihat - atau mendengar - orang yang
berkomentar, "Jangankan untuk menabung,
untuk makan saja susah. Apa yang mau
ditabung ? Nanti kalau untuk memenuhi
kebutuhan pokok sudah ada lebihnya, pasti
saya menabung."
Sepintas kalimat itu
kedengarannya masuk akal. Namun justru pola
pikir seperti itulah yang biasanya membuat
orang tidak mempunyai tabungan. Karena -
orang yang sama - jika dia mau merubah pola
pikirnya, pasti mempunyai tabungan.
Bagaimana seharusnya ? Dibalik. Jangan
menunggu ada kelebihan baru mau menabung.
Caranya, berapapun penghasilan yang anda
dapat, sisihkan dulu sejumlah tertentu - entah
seribu atau dua ribu, entah satu juta atau dua
juta - untuk ditabung. Dengan begitu maka
anda pasti punya tabungan.
Namun tabungan anda cukup diisi seperlunya,
yaitu untuk kebutuhan rutin 6 sampai 12 bulan.
Apa maksudnya ? Maksudnya begini. Uang anda
yang anda simpan di dalam tabungan ini
sebaiknya benar-benar hanya untuk cadangan
jangka pendek, untuk likuiditas rutin, supaya
cadangan cash anda tidak terlalu ketat. Kalau
tiba-tiba anda kehilangan pekerjaan, atau usaha
anda bangkrut, setidaknya anda punya
cadangan untuk biaya rutin 6 sampai 12 bulan,
dan
diharapkan sebelum 6 bulan anda sudah
mendapatkan sumber pendapatan ( income )
yang baru.
Nah, uang anda yang lain, termasuk
yang untuk cadangan biaya pendidikan anak,
renovasi rumah, pernikahan anak, dan lain-lain,
sebaiknya anda tempatkan di tempat yang lain
yang lebih produktif. Mengapa demikian ? Mari
kita cermati pelajaran penting yang
disampaikan oleh Michael Tjoajadi, direktur PT.
Schroder Investment Management Indonesia
( SIMI ), sebagaimana dimuat di dalam Majalah
Investor edisi 15 - 28 Januari 2007:
"Tidak ada orang yang kaya dari deposito. Bila
menginvestasikan uang di bank, berarti dengan
sengaja memiskinkan dirinya. Karena aset yang
diinvestasikan di deposito akan termakan pajak
dan inflasi. Jumlah uang bertambah, tetapi
purchasing power berkurang. ..."
II. Income Protection
Biasanya orang kalau ditanya untuk siapa
mereka bekerja, rata-rata jawabannya adalah
bahwa mereka bekerja untuk anak. Mereka rela
melakukan apa saja demi anak.
Jika anda diizinkan untuk mempunyai mesin
pencetak uang yang diperbolehkan untuk
mencetak berapun uang yang anda butuhkan,
di manakah anda akan menyimpannya ? Tentu
jawabannya adalah di tempat yang aman. Bila
perlu ditempatkan di dalam ruangan khusus
yang diberi kunci pengaman ganda. Jangan
sampai ada yang mengambilnya. Dan anda pun
pasti akan merawatnya dengan baik supaya
tidak rusak, karena kalau sampai rusak maka
keuangan keluarga akan terguncang. Anda
tahu bagaimana rasanya mempunyai gaya
hidup yang turun ? Anda bisa bayangkan
bagaimana perasaan orang yang biasanya
bepergian dengan mobil sendiri tiba-tiba harus
naik kendaraan umum ? Ketika berjalan dari
gerbang rumah menuju jalan raya, seolah-olah
sorot mata para tetangga itu begitu menusuk
membuat mata tertunduk, meskipun para
tetangga tidak bermaksud begitu. Dada yang
biasanya tegak dan membusung tiba-tiba
seperti kempis dan mengerut, dan dagu juga
tidak bisa diajak kompromi karena serasa
digantungi batu yang berat. Jadi, sudah
sepantasnya jika pemilik mesin uang menjaga
mesin uangnya itu dengan penjagaan yang
ekstra ketat.
Dengan analogi di atas, sekarang pertanyannya
adalah, siapakah yang menjadi mesin uang di
keluarga anda ? Maksudnya adalah, siapakah
yang menjadi pencari nafkah di keluarga anda ?
Pencari nafkah adalah ibarat mesin uang bagi
keluarga. Ketika dia bekerja - entah itu menjadi
karyawan ataupun menjadi pengusaha - dia
menghasilkan uang yang dipakai untuk
memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari
kebutuhan pokok sampai kebutuhan yang
mewah. Itulah mesin uang keluarga.
Yang menjadi persoalan adalah, ketika orang
dihadapkan dengan mesian uang dalam arti
harfiah, mesin uang sungguhan, rata-rata sadar
dan tahu cara merawat dan melindunginya;
tetapi ketika dihadapkan dengan mesin uang
yang berupa pencari nafkah untuk keluarga,
ternyata persentase yang sudah membuat
perlindungan jauh lebih kecil dibandingkan
dengan yang belum.
Bagimanakah cara membuat perlindungan
pendapatan bagi keluarga ? Cara yang tepat
adalah dengan ikut program asuransi
pendapatan ( life insurance ). Program ini di
masyarakat lebih dikenal dengan sebutan
asuransi jiwa.
Jadi, kalau anda membaca, atau
mendengar kata-kata asuransi jiwa, sebaiknya
diartikan sebagai asuransi pendapatan keluarga.
Mengapa orang perlu mengasuransikan
pendapatannya ?
Ketika seorang pencari nafkah bekerja lalu
memperoleh pendapatan, dengan pendapatan
itulah dia menghidupi keluarganya. Dengan
pendapatan itulah dia bisa memenuhi berbagai
macam kebutuhan hidup keluarganya, mulai
dari makan, pakaian, tempat tinggal,
menyekolahkan anak, liburan, dan sebagainya.
Bagi sebagian orang, sebagian pendapatannya
juga digunakan untuk membangun aset, entah
itu dalam bentuk aset riil ( tanah, rumah, logam
mulia, dan sebagainya ) maupun dalam bentuk
aset finansial ( deposito, obligasi, reksadana,
dan sebagainya ).
Namun perlu disadari bahwa dalam hidup ini
ada 3 risiko yang jika teradi pada pencari nafkah
maka bisa berakibat fatal secara finansial. Ketiga
risiko itu adalah:
1) Sakit berat / berkepanjangan; Efek dari sakit berat / berkepanjangan lebih berat dibandingkan dengan efek dari cacat total permanen, karena orang yang sakit berat / berkepanjangan, di samping dia tetap membutuhkan biaya hidup, dia juga membutuhkan biaya perawatan ( yang bisa jadi lebih besar daripada biaya hidupnya ). Dia perlu dipanggilkan dokter atau dibwa ke rumah sakit, dia perlu dibelikan obat, dan sebagainya.
2) Cacat total permanen; Cacat total permanen atau menetap bisa disebabkan oleh kecelakaan dan bisa juga disebabkan oleh sakit kritis. Orang yang mengalami cacat total permanen, biasanya aktivitas mencari nafkahnya menjadi terganggu, atau bahkan mungkin ada yang sudah tidak bekerja lagi. Yang membuat persoalan menjadi lebih berat adalah bahwa kalau orang meninggal, meskipun dia tidak menghasilkan pendapatan lagi, tapi dia juga sudah tidak membutuhkan biaya hidup; sedangkan orang yang cacat total permanen masih membutuhkan biaya hidup.
3) Meninggal.
Jika pencari nafkah di sebuah keluarga
meninggal, berarti itu seperti mata air yang
tidak berfungsi lagi; juga seperti mesin uang
yang hilang. ( Masih ingat analogi mesin
uang ? ). Berarti pendapatan keluarga yang
biasanya diberikannya dari hasil bekerja juga
terhenti. Tetapi, apakah kebutuhan hidup
keluarga juga terhenti ? Tidak ! Kebutuhan
hidup keluarga tetap berjalan terus; anak-anak
tetap butuh makan, rekening listrik harus
dibayar, rekening telepon harus dibayar, anak-
anak harus sekolah, dan semuanya perlu
menjalani kehidupan dengan standar gaya
hidup yang layak. Berarti, kepergian pencari
nafkah untuk selamanya itu menimbulkan
kerugian finansial bagi keluarga.
Perlu diketahui dan disadari bahwa asuransi jiwa
tidak mengasuransikan jiwa, sebab jiwa manusia
bukan obyek asuransi. Sesuatu yang dijadikan
obyek asuransi haruslah sesuatu yang bisa
diukur dengan uang. Sedangkan jiwa manusia
tidak bisa diukur dengan uang. Oleh karena itu,
jika anda berhubungan dengan perusahaan
asuransi jiwa, buang jauh-jauh pandangan
bahwa anda sedang mengasuransikan jiwa
anda; buang jauh-jauh, sekali lagi buang jauh-
jauh perasaan bahwa anda sedang
mengasuransikan jiwa anda. Bayangkan bahwa
anda sedang membangun jaminan finansial
bagi keluarga anda. Tanamkan di dalam benak
anda, tanamkan di dalam hati dan perasaan
anda bahwa anda sedang membangun
kerangka finansial yang kokoh. Tanamkan
pemahaman bahwa ketika anda mendaftar
asuransi jiwa berarti anda sedang menyiapkan
jaminan keamanan finansial pribadi, jaminan
finansial keluarga, jaminan pensiun sejahtera.
III. Investment
Investasi secara mudah dapat diartikan begini:
anda menyimpan sejumlah uang dengan
harapan setelah jangka waktu tertentu uang
anda menjadi lebih banyak.
Berarti kalau kita berbicara mengenai investasi,
maka:
1. harus ada sejumlah uang yang
diinvestasikan. Ini yang dinamakan modal;
2. kita harus menentukan kerangka waktu,
kapan kita hendak memetik hasilnya.
3. sejak awal kita harus sudah
memperhitungkan potensi hasil yang bisa kita
peroleh.
Berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas,
ada hal-hal lain yang selalu melekat dalam
pembicaraan mengenai investasi, yaitu:
1. investasi selalu mengandung risiko. Biasanya
semakin besar potensi hasil yang bisa diperoleh
semakin besar pula risikonya. Itulah yang di
dalam dunia investasi sering disebut high return
- high risk.
2. supaya anda berinvestasi dengan baik maka
anda harus mempunyai tujuan yang jelas.
Jika anda mengambil sebutir padi, lalu anda
menanamnya di atas lumpur, maka akan
tumbuh sebatang kecambah yang lama-lama
menjadi semakin besar, yang dalam waktu
beberapa minggu sudah beranak menjadi
katakanlah tujuh pohon padi. Ketujuh pohon
padi itu setelah 4 bulan menghasilkan padi
yang siap dipanen. Berarti saat itu anda akan
mendapatkan tujuh tangkai padi. Jika masing-
masing tangkai terdiri dari 400 butir padi,
berarti dalam waktu 4 bulan sebutir padi telah
berubah menjadi 2800 butir padi. Sebuah
investasi yang luar biasa.
Lalu ada yang bertanya, "Mengapa banyak
petani yang miskin?"
Jawabannya adalah sebuah pertanyaan lagi,
"Apakah dari 1000 butir padi yang ditabur akan
menghasilkan seperti contoh di atas ?"
Ternyata
jika anda menaburkan 1000 butir padi, akan
ada beberapa yang tidak tumbuh. Sementara
dari yang tumbuh itu ada yang hanyut terbawa
arus air sawah, ada yang dimakan tikus, dan
sebagainya, sehingga yang benar-benar
menghasilkan bulir padi persentasenya tidak
100%. Dan dari yang menghasilkan bulir padi
juga ternyata ada yang dimakan hama sebelum
masa panen tiba. Itulah yang namanya risiko.
Ada banyak instrumen investasi yang bisa anda
manfaatkan untuk meningkatkan aset anda.
Masing-masing tentunya dengan tingkat risiko
dan potensi keuntungan yang berbeda satu
sama lain. Anda bisa memilih sesuai dengan
karakter anda, sesuai dengan tujuan anda, dan
sesuai dengan kesiapan anda menanggung
risikonya.
Pilihlah instrumen investasi secara bijak.
Untuk informasi lebih jelas tentang Asuransi Unit Link
Silahkan Ketik:
Nama – Tanggal Lahir – email Anda Sms Ke
085811145913 atau invite dan inbox ke PIN BB
2AF01537, Selanjutnya akan kami kirim ilustrasi
proposal ke email anda…
Salam kami
Teguh
Baca Selengkapnya ....